Ceritanya kemarin gw baru ikutan konferensi tentang leadership yang salah satunya menampilkan tokoh young leader-nya Australia. Dia sukses sebagai sutradara muda dengan background yang unik dan perjalanan yang berat dan menyentuh. Dia orang Vietnam, ‘terusir’, dan menjadi bagian dari manusia perahu di akhir tahun ‘70-an. Sebagai anak dari pencari suaka yang harus menapaki hidup yang cukup berat, di umurnya sekarang yang kira-kira 30-an awal, dia udah jadi sutradara yang sukses, terima beberapa award internasional bukan dari film dengan budget jutaan dolar yang isinya aktor terkenal, tapi dengan tim yang isinya pecandu heroin, napi, dan orang-orang ga beruntung lainnya.
Hal yang menarik yang gw ambil dari dia adalah gimana dia bisa menceritakan hal pahit dalam hidupnya, dan dikemas jadi sesuatu yang lucu, sedikit gaya komedi by making fun of his life, dan menginspirasi banyak orang. Walaupun dalam hati gw ngerasa, kalo orang ini sekarang ga sukses pasti gaya ceritanya ga seperti ini. Bisa-bisanya dia menceritakan kematian, perpisahan, kemiskinan dengan gaya yang ringan. Tapi kalau denger cerita dari orang-orang yang berhasil - di luar mereka yang beruntung dengan keluarga yang support pendidikan, mampu sekolahin anaknya sampai setinggi mungkin – biasanya mereka mengalami hal serupa, datang dari masa lalu yang kurang beruntung, belajar dari pengalaman, dan berusaha untuk merubah hidup. Karena pilihan mereka cuma dua, tetap di kehidupannya dan diremehkan orang atau berjuang untuk merubah nasib sehingga bisa memperbaiki kehidupan keluarga dan lingkungan sekitarnya.
Tapi di akhir sesi dia bicara, suasana berubah jadi panas. Salah satu peserta dari Vietnam mempertanyakan masalah loyalitas dan menyesalkan karena dia terlalu bangga sebagai orang Australia daripada orang Vietnam. Dalam hati gw (pandangan gw kalo gw jadi dia yang keluarganya hampir mati)…ya iyalah… Mau dia pergi kemanapun, walalupun bukan Australia, bisa jadi di Kiribati, Indonesia atau dimanapun juga, karena dia bisa hidup dan berkarya disana, hidupnya ga terancam, keluarganya bahagia, pasti dia lebih senang. Terlepas dari sentimen politis yang ada di masanya, kita seharusnya bisa terima sejarah yang ada, kesalahan di masa lalu, dan terima keadaannya sekarang gimana.
Dilihat dari konteks Indonesia, kalau suatu hari nanti ada orang Papua atau Aceh atau mungkin orang Jawa atau orang manapun juga yang dulu dapet perlakukan yang ga manusiawi dan ga selayaknya terus dapet suaka di suatu negara, trus dia sukses dan terkenal, dan bangga jadi orang sana, apa kita mau marah-marah, bilang ga nasionalis-lah, ga ngerti tanah kelahiran-lah? Menurut gw kita harus tetap bisa terima, terima kesalahan di masa lalu dan terima pilihan orang, asal sesuai dengan fakta yang ada dan ga lebay.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment